Kamis, 18 Maret 2010

artikel tentang trauma ...

artikel tentang trauma.

Luka jiwa atau kadang disebut juga dengan trauma dapat terjadi pada semua insan, tak terkecuali diri kita. Saat mencapai dewasa maka kemampuan untuk mengatasi luka jiwa akan semakin lengkap dan komplit, sehingga luka jiwa yang terjadi dapat cepat sembuh atau bahkan sembuh sama sekali. Disadari atau tidak jiwa kita yang terbentuk sampai dewasa seperti sekarang ini dipengaruhi oleh luka-luka yang terjadi waktu kita masih kecil atau remaja. Masa yang sangat rawan dikarenakan seorang anak kecil belum dilengkapi dengan kemampuan secara sempurna untuk mengobati luka jiwa yang dialami. (Doker Arya Hasanuddin/PPDS Psikiatri, International Society of Hypnosis-35)



Trauma adalah keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani. Selain itu trauma juga dapat diartikan sebagai luka yang ditimbulkan oleh faktor external. Jiwa yang timbul akibat peristiwa traumatik. Peristiwa traumatik bisa sekali dialami, bertahan dalam jangka lama, atau berulang-ulang dialami oleh penderita. Trauma psikologis bisa juga timbul akibat trauma fisik atau tanpa ada trauma fisik sekalipun. Penyebab trauma psikologis antara lain pelecehan seksual, kekerasan, ancaman, atau bencana. Namun tidak semua penyebab tersebut punya efek sama terhadap tiap orang. Ada orang yang bisa mengatasi masalah tersebut, namun ada pula yang tidak bisa mengatasi emosi dan ingatan pada peristiwa traumatik yang dialami.



Penyebab dari trauma meliputi 2 faktor yaitu:
1.Faktor internal (psikologis)
Bentuk gangguan dan kekacauan fungsi mental, atau kesehatan mental yang disebabkan oleh kegagalan bereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan terhadap stimuli ekstern dan ketegangan-ketegangan, sehingga muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur dari satu bagian, satu organ, atau sistem kejiwaan/mental. Merupakan totalitas kesatuan ekspresi proses kejiwaan/mental yang patologis terhadap stimuli sosial, dikombinasikan dengan faktor-faktor kausatif sekunder lainnya (patalogi = ilmu penyakit ).

Secara sederhana, Trauma dapat dirumuskan sebagai gangguan kejiwaan akiba ketidak mampuan seseorang mengatasi persoalan hidup yang harus dijalaninya, sehingga yang bersangkuan bertingkah secara kurang wajar.

Sebab-sebab timbulnya Trauma yaitu :
• Kepribadian yang lemah atau kurang percaya diri sehingga menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri, ( orang-orang melankolis)
• Terjadinya konflik sosial – budaya akibat dari adanya norma yang berbeda antara dirinya dengan lingkungan masyarakat.
• Pemahaman yang salah sehingga memberikan reaksi berlebihan terhadap kehidupan sosial (overacting) dan juga sebaliknya terlalu rendah diri (underacting).
Proses – proses yang diambil oleh sesorang dalam menghadapii kekalutan mental, sehingga mendorongnya kearah :
• Positif, bila trauma (luka jiwa) yang dialami seseorang, akan disikapi untuk mengambil hikmah dari kesulitan yang dihadapinya, setelah mencari jalan keluar maksimal, tetapi belum mendapatkannya tetapi dikembalikan kepada sang pencipta yaitu Allah SWT, dan bertekad untuk tidak terulang kembali dilain waktu.
• Negatif, bila trauma yang dialami tidak dapat dihilangkan, sehingga yang bersangkutan mengalami frustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang dicita-citakan.
Contohnya :
Agresi, yaitu : Meluapkan rasa emosi yang tidak terkendali dan cenderung melakukan tindakan sadis yang dapat mambahayakan orang lain.
Regresi, yaitu : Pola reaksi yang primitif atau kekanak-kanakan. (menjerit, menangis dll)
Fiksasi, yaitu : Pembatasan pada satu pola yang sama (membisu, memukul dada sendiri dll)
Proyeksi, yaitu : Melemparkan atau memproyeksikan sikap-sikap sendiri yang negatif pada orang lain.
Indentifikasi, yaitu : Menyamakan diri dengan sesorang yang sukses dalam imajinasi, (kecantikan, dengan bintang film .dll)
Narsisme, self love yaitu : Merasa dirinya lebih dari orang lain.
Autisme yaitu : Menutup diri dari dunia luar dan tidak puas dengan pantasinya sendiri.

Penderita Trauma lebih banyak terdapat dalam lingkungan ;
Kota- kota besar yang banyak memberikan tantangan hidup yang berat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Anak-anak usia muda tidak berhasil dalam mencapai apa yang dikehendakinya.
Para korban bencana alam dan di tempat-tempat konflik, karena setres terhadap harta bendanya yang hilang.

2.Faktor eksternal (fisik)
• Faktor orang tua dalam bersosialisasi dalam kehidupan keluarga, terjadinya penganiyayaan yang menjadikan luka atau trauma fisik.
• Kejahatan atau perbuatan yang tidak bertanggung jawab yang mengakibat kan trauma Fisik dalam bentuk luka pada badan dan organ pada tubuh korban.



Salah satu penanganan trauma yaitu dengan konseling trauma. Konseling trauma merupakan kebutuhan mendesak untuk membantu mengatasi beban psikologis yang diderita akibat bencana mapun hal yang linnya. Guncangan psikologis yang dahsyat akibat kehilangan orang-orang yang dicintai, kehilangan sanak keluarga, dan kehilangan pekerjaan, bisa memengaruhi kestabilan emosi para korban. Mereka yang tidak kuat mentalnya dan tidak tabah dalam menghadapi petaka, bisa mengalami guncangan jiwa yang dahsyat dan berujung pada stres berat yang sewaktu-waktu bisa menjadikan mereka lupa ingatan atau gila.

Konseling trauma dapat membantu menata kestabilan emosinya sehingga mereka bisa menerima kenyataan hidup sebagaimana adanya meskipun dalam kondisi yang sulit. Konseling trauma juga sangat bermanfaat untuk membantu penderita trauma untuk lebih mampu mengelola emosinya secara benar dan berpikir realistik.

Dengan modal emosi yang stabil dan keterampilan mengelola kehidupan emosionalnya, maka konseling trauma dapat dilanjutkan untuk membantu para korban untuk menemukan kembali rasa percaya diri yang sempat terkoyak tak berdaya dirampas bencana. Tidak mudah bagi setiap orang untuk bisa menerima kenyataan kehilangan istri, anak, atau pun suami. Bahkan ketika perasaan kehilangan yang amat dalam itu muncul, seseorang akan merasa hidupnya tidak berarti lagi. Keadaan inilah yang memicu munculnya kondisi putus asa (hopeless) dan tak berarti (meaningless) (Fromm, 1999). Hidup tanpa arti dan tanpa harapan akan sulit. Membangun rasa percaya diri ditopang kestabilan emosional menjadi awal untuk berkembangnya kemampuan berpikir rasional dan realistik. Kestabilan emosional dan kemampuan berpikir rasional dan realistik merupakan dua tonggak utama yang sangat menentukan pikologi seseorang.

Semangat hidup menjadi modal utama bagi para korban untuk sanggup bertahan dan menatap masa depan dari balik kehancuran hidup dan kesendirian. Dengan semangat hidup yang kuat, para penderita akan terbebas dari belenggu keputusasaan dan ketidakberdayaan. Konseling trauma juga sangat bermanfaat dalam membantu para korban untuk mampu memecahkan masalah secara kreatif melalui hubungan timbal balik dan dukungan lingkungan.

Dalam penyembuhan trauma,juga terdapat tahap demi tahap dalam penyembuhan trauma, antara lain:
PERATURAN DASAR
_ Kerahasiaan mutlak (tentang perasaan, pengakuan rasa bersalah, dll.).
_ Kehadiran dibatasi hanya untuk orang-orang yang terlibat dan teampewawancara (dan orang tua yang ditinggalkan).
_ Aktif mendengarkan (meminta umpan balik, minta lebih banyak informasi[jangan pernah menanyakan pertanyaan tertutup yang hanya dijawab dengan ya atau tidak), beri umpan balik tentang apa yang saudara pikirkan mengenai apa yang mereka katakan).
_ Setiap orang dalam kelompok yang terlibat dalam peristiwa tersebut, berbicara untuk diri mereka sendiri saja – jangan ijinkan orang lain mengatakan apa perasaan dari orang lain, menanggapi, atau apa yang mereka rasakan sekarang.
_ Jangan mengkritik perasaan atau reaksi orang lain.
_ Bersikap positif, mendukung, suasana pengertian, didasari pada keprihatinan Tahap-tahap dibawah ini adalah progresif. Pada waktu Anda mengumpulkan mereka, biarkan mereka bicara mengenai perasaan mereka. Pertama, fakta-fakta (apa yang terjadi?), pikiran-pikiran (Apa yang saya pikirkan?, pikiran apa yang pertama terlintas kepada saya pada waktu itu terjadi?), perasaan-perasaan, strategi penanggulangan sekarang, gejala-gejala sekarang sejak terjadinya penenggelaman itu, dll. – lihat tahap-tahap dibawah ini. Jangan melompat dari tahap pertama ke tahap kelima, dll., tapi juga jangan mengijinkan beberapa orang (khususnya pria) berhenti pada tahap fakta dan tidak melanjutkan pada tahaptahap pemikiran dan perasaan. Bantu dan minta mereka mengekspresikan diri mereka. Jangan dibuat bertahap dengan airmata – biarkan itu mengalir, dan apabila seseorang mulai menangis, tegaskan pada mereka dan yakinkan kelompok bahwa, hal tersebut adalah dukacita yang sehat dan normal. Terus yakinkan orang bahwa, itu mereka normal. Beberapa mungkin mengekspresikan perasaan tertentu (menangis, marah, takut, rasa bersalah,depresi)
– Anda perlu meyakinkan mereka bahwa, hal ini adalah perasaan normal bagi seseorang yang melalui trauma seperti ini dan tidak ada alasan untuk merasa malu mengenai perasaan-perasaan itu. Dorong mereka untuk bicara, dan dorong kuatkan setiap orang dalam kelompok untuk membagikan dan menceritakan sebanyak mungkin di setiap tahap (sebanyak yang Anda mampu )
satu persatu – Saya tahu ini tidak bisa dikendalikan dengan paksa, tapi cobalah, sehingga orangorang dapat memproses dengan baik. Penggunaan papan tulis dimana Anda menunjukkan langkah-langkahnya, akan berguna.



Dibawah ini adalah tahap-tahap dari pewawancaraan kembali:

TAHAP PERTAMA: TAHAP PENGENALAN
Tujuan dari pewawancaraan kembali harus dijelaskan, demikian juga dengan pentingnya kerahasiaan. Bagikan peraturan dasar dari pertemuan itu – Ceritakan dan jelaskan bahwa, peraturan-peraturan dasar ini dirancang untuk membantu perkembangan rasa aman dan rasa percaya. Pastikan bahwa, ruangan itu sendiri bisa meningkatkan rasa percaya diri dan sikap moral yang baik. Pastikan bahwa, pada tahap ini orang-orang yang tepat berada dalam ruangan – jangan ijinkan siapapun yang tidak terlibat secara langsung dalam krisis / apa yang terjadi berada dalam ruangan (kecuali orang yang melakukan pewawancaraan kembali). Kita perlu menjadikan pewawancaraan kembali itu sebagai keharusan bagi mereka yang terlibat dalam peristiwa-peristiwa kritis. Beberapa orang tidak akan suka berada disitu – beritahukan ini sejak awal – teknik yang efektif adalah dengan memberitahukan bahwa, mereka mungkin tidak perlu berada di ruangan itu, tetapi sangat mungkin akan menolong mereka jika ada orang lain yang juga berada dalam ruangan itu.

TAHAP KEDUA : TAHAP FAKTA
Orang yang diwawancarai kembali berbicara tentang apa yang terjadi – fakta-fakta mengenai kejadian tersebut. Biasanya cukup mudah untuk mengatakan apa yang terjadi (fakta-fakta dan detail-detail ), tetapi membagikan perasaan kita tentang apa yang terjadi, itu lebih sulit. Biarkan orang itu menggambarkan fakta-fakta mengenai diri mereka dan kejadian tersebut:
_ Dimana mereka berada
_ Apa yang mereka lihat, dengar, dan cium.
_ Apa yang mereka lakukan di dalam dan disekitar kejadian tersebut.
Jika situasinya telah menjadi sangat menyakitkan maka akan tidak nyaman untuk menceritakan fakta-fakta, tapi keuntungan besarnya adalah jika suatu hal telah diceritakan secara terbuka maka orang yang menceritakan hal itu akan merasa ada kuasa yang memampukan dia mengatasi situasi tersebut dan tidak akan dikalahkan oleh hal itu. Memori-memori yang menekan menuntun pada pengembangan sejumlah perasaan-perasaan menyakitkan secara berkesinambungan yang tidak penting bahkan merusak. Pada tahap ini kelompok mengkontribusikan semua fakta-fakta yang diperlukan untuk membuat kejadian tersebut menjadi nyata kembali di dalam ruangan.

TAHAP KETIGA: TAHAP PEMIKIRAN
Orang tersebut diminta mendiskusikan pemikiran pertamanya selama peristiwa tersebut. Atau pemikiran pertama ketika mereka berhenti memikirkan secara otomatis. Ini menolong untuk masuk ke dalam aspek-aspek pribadi dari situasi tersebut. Pemikiran pribadi seringkali tersembunyi dibalik fakta-fakta dan membawa mereka keluar kepada penegasan terbuka kepada pewawancara yang pemikirannya sendiri penting dan tidak boleh dilupakan atau dikuburkan dibawah
fakta-fakta dari situsi itu. Contohnya, pemikiran pertama yang mereka ingat ialah
“Saya akan mati. Apa yang akan terjadi dengan isteri dan anak saya?”

TAHAP KEEMPAT: TAHAP REAKSI / EMOSIONAL / PERASAAN
Hal ini menolong orang itu berpindah dari tingkat kognitif kepada tingkat emosi dari proses ini. Tingkat kognitif adalah apa yang kita pikirkan dan tingkat emosional ialah apa yang kita rasakan. Orang yang mengabaikan tingkat emosional seringkali berakhir pada menderita penyakit-penyakit yang berhubungan dengan stress. Pertanyaan khas yang menggerakkan orang dari tingkat kognitif ke tingkat emosional dari proses adalah: “Hal terburuk apa yang terjadi dari peristiwa itu?” atau "Apa hal yang paling Anda ingat dari peristiwa itu?" Mengejutkan sekali mendapati pernyataan-pernyataan rumit yang keluar karena dipicu oleh pertanyaan ini. Hal ini menolong orang menyadari bahwa, adalah wajar untuk memiliki perasaan, selain pemikiran, mengenai pengalaman tertentu. Tahap ini merupakan tahap penyebaran. Pada posisi ini mereka mungkin akan berbicara tentang perasaan takut, rasa bersalah, sikap kaku ataupun kemarahan. Mereka dapat juga melaporkan tentang ingatan-ingatan tertentu seperti “Saya ingat bunyi suara senapan yang dikokang”. "Saya ingat tatapan matanya dan ketika saya tutup mata, saya tetap dapat melihat dia menatapku, dan berteriak meminta pertolongan."
Pertanyaan-pertanyaan yang Anda perlu tanyakan pada tahap ini adalah:
_ “Bagaimana perasaanmu sekarang?”
_ “Bagaimana perasaanmu pada waktu hal itu terjadi?”
_ “Pernahkah Anda merasakan hal seperti ini sebelumnya?”
_ Pastikan tidak seorangpun yang mendominasi, tidak ada yang diabaikan, dan
tidak ada yang meninggalkan ruangan. Kemungkinan di tahap inilah seseorang ingin pergi, karena mereka takut pada emosi mereka sendiri, sangat menginginkan mengontrol emosi mereka dengan segala cara, dan mereka pikir satu-satunya cara untuk mengontrol emosi mereka hanya dengan pergi.

TAHAP KELIMA: TAHAP GEJALA DAN HASIL-HASIL
Tanda-tanda dan gejala-gejala kognitif, fisik, emosional dan tingkah laku apakah yang diakibatkan oleh penderitaan yang dulu telah dialami dan terus dialami hingga kini? Mencakup tiga periode waktu: selama peristiwa terjadi, setelah peristiwa terjadi dan keadaan sekarang ini. Tanyakan mereka untuk membicarakan dampakdampak dari stress seperti; sulit tidur, nafsu makan yang rendah, ketidakmampuan untuk kembali bekerja, perasaan muak, rasa bersalah, tidak dapat berdoa, dll. Tolong mereka untuk melihat bahwa gejala-gejala mereka itu normal, wajar dalam menanggapi tekanan, bahkan bersifat universal. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa Anda tanyakan selama tahap ini:
_ “Apakah Anda mengalami hal-hal yang tidak biasa pada saat mengalami insiden itu?”
_ “Apa hal-hal yang tidak biasa yang Anda alami sekarang?”
_ “Apakah kehidupan Anda berubah sejak kejadian tersebut? Berubah bagaimana?”
_ Pada tahap ini, orang-orang sering menggambarkan “gejala menanggapi tekanan” yang normal.

TAHAP KEENAM: TAHAP PENGAJARAN ATAU PENJAMINAN KEMBALI
Pada waktu tanda-tanda kesusahan telah didiskusikan, maka sekarang sang pewawancara mulai memberi informasi mengenai reaksi-reaksi stress dan apa yang harus dilakukan untuk mengurangi hal itu. Katakan pada mereka bahwa, hal tersebut adalah normal – dukungan, pengertian, penjaminan kembali mengenai tanggapan-tanggapan yang wajar. Titik permulaan yang baik adalah mengatakan kepada orang yang diwawancarai bahwa, gejala-gejala yang dialami adalah normal dan umumnya akan berkurang seiring berjalannya waktu. Pengajaran khusus mengenai reaksi-reaksi terhadap stress dan teknik-teknik untuk mengurangi dan menanggulangi stress perlu diberikan. Pertanyaan-pertanyaan adalah informasi pengundang yang berhubungan dengan proses dukacita atau hal-hal spesifik yang
sewajarnya diberikan. Selebaran seringkali dipergunakan pada tahap ini. Berilah masukan-masukan tentang hal-hal yang dapat menolong, cara-cara untuk memelihara diri Anda sendiri.

TAHAP KE TUJUH: TAHAP RANGKUMAN DAN RE-ENTRY
Ini adalah tahap rangkuman – ringkasan pertemuan dan menjawab semua pertanyaan. Mengenali hal-hal spesifik berkenaan dengan jaminan akan tindak lanjut. Mengembangkan perencanaan tindakan mengenai bagaimana orang tersebut atau kelompok tersebut akan berkembang kedepan. Tawarkan lebih banyak bantuan kepada individu-individu jika mereka ingin berbicara lagi sekarang atau besok atau minggu depan – Undang mereka untuk berbicara dan yakinkan mereka yang akan berbicara tersebut. Selalu mendoakan dan melayani orang yang diwawancarai itu sebelum dia pulang. Kita bisa berbicara panjang lebar, tapi pada akhirnya hanya Allah yang akan membawa pemecahan, pemulihan, kesembuhan dan pertumbuhan. Janji untuk bertemu kembali dibuat jika diperlukan. Diskusikan
hal-hal mengenai bagaimana peristiwa tersebut mempengaruhi masa transisi kembali ke sekolah, pekerjaan atau keluarga. Pernyataan rangkuman perlu dibuat oleh Pewancara. Bahan bacaan mengenai bagaimana mengendalikan stress dapat diberikan kepada orang yang diwawancarai itu. Pewawancara mengulangi lagi bahwa, ia bersedia untuk melanjutkan sesi selanjutnya yang diperlukan, secara khusus bertemu secara pribadi.

TAHAP KE DELAPAN: TAHAP TINDAK LANJUT
Setiap Insiden mempunyai potensi membangkitkan perasaan yang memerlukan
lebih dari satu sesi pertemuan untuk menyelesaikannya.
_ Sesi lanjutan dapat dibuat sesuai keperluan untuk seluruh kelompok atau sebagian kelompok atau untuk individu tertentu. Buatlah janji pertemuan lanjutan jika itu diperlukan.
_ Individu-individu mungkin menyadari perlunya pertolongan dari konselor atau penasehat jika perasaan terluka atau gejala-gejalanya itu kelihatannya telah berlangsung lama, tidak terkendalikan lagi, kelihatannya semakin memburuk, menjadi mimpi buruk yang berkelanjutan, atau sudah merasuki kehidupan keluarga dan pekerjaan.

D.Peran Keluarga dalam Pencegahan trauma
Peran-peran keluarga dalam pencegahan antara lain;
Membangun mental dan keperibadian anak supaya anak tidak mudah stres yang akan mengakibatkan trauma.
Hindari kekerasan keluarga karena akan mengakibatkan trauma.
Memotifasi kelurga supaya menjadi orang yang berpikiran positif dan ter hindar dari trauma.


sumber :
http://anaz-world.blogspot.com/2010/01/makalah-kesehatan-trauma.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar